Serving Lovely ala dokter dari Negeri Chaiya-Chaiya

lovely india

lovely%20india Serving Lovely ala dokter dari Negeri Chaiya Chaiya STIKes

Seluruh sivitas akademika STIKes Dharma Husada Bandung tentunya sudah sangat familier dengan motto “Helping People with 3H Principles ” dan juga yel-yel yang berbunyi “Thinking big, working smart and serving lovely”. Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah kita melaksanakan motto dan yel-yel itu?  Jika belum, nampaknya apa yang dilakukan sepasang dokter dari India ini dapat kita jadikan contoh teladan. Ketika pasangan suami istri Rani dan Abhay Bang memutuskan untuk merevolusi perawatan kesehatan di  Gadchiroli, salah satu wilayah termiskin di India, mereka  baru saja menyelesaikan master di bidang kesehatan masyarakat di Johns Hopkins University Amerika Serikat. Dengan tekad ingin memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat, mereka mendirikan organisasi nirlaba yang disebut SEARCH (Society for Education, Action and Research in Community Health) pada tahun 1985

Pada saat itu, kematian bayi merupakan masalah yang tengah menjadi pusat perhatian. Pasangan ini kemudian menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu paket perawatan rumah bagi bayi baru lahir yang dilakukan oleh para perempuan desa yang telah dilatih dan diperlengkapi. Para perempuan desa ini bertugas mendiagnosis pneumonia (dengan cara menghitung napas bayi dengan menggunakan sistem sempoa yang dirancang oleh Abhay Bang), melakukan resusitasi bayi dan memberikan  vitamin K.

Saat ini pendekatan kesehatan masyarakat yang dikembangkan oleh Bang dan istrinya telah diakui, namun pada awalnya saat program ini dipublikasikan sempat dipertanyakan bagaimana mungkin perempuan dengan tingkat pendidikan rendah dapat melaksanakan program neonatal care. Bahkan meskipun data statistik menunjukkan perubahan yang bermakna, masih ada yang mempertanyakan aspek etik dari program yang mereka kembangkan. Sejak pasangan ini mengelola masalah pneumonia anak pada tahun 1988 dan melaksanakan program perawatan rumah bagi bayi baru lahir pada tahun 1995, Angka Kematian Bayi (AKB) menurun tajam dari 121/1.000 kelahiran hidup pada tahun 1988 menjadi 30/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2003.  Bang merespon kritikan tersebut dengan mengungkapkan bahwa sarana pelayanan kesehatan berupa rumah sakit atau klinik di daerah tersebut sangat terbatas. Para perempuan desa yang berperan menjadi petugas kesehatan tersebut dilatih hingga trampil dan selalu dicek dengan rutin untuk memastikan bahwa yang mereka lakukan telah sesuai dengan buku pedoman. Jika mereka ragu, mereka dapat berkonsultasi dengan salah satu dokter yang terlibat pada program tersebut.

Di samping faktor lain seperti transportasi dan biaya pengobatan yang mahal faktor budaya menjadi masalah yang sangat penting terkait dengan pelayanan kesehatan di wilayah Gadchiroli. Menurut Rani sang istri, masyarakat suku asli wilayah tersebut merasa bahwa dokter dan perawat yang mengenakan jas putih tampak seperti hantu memakai kain kafan, bagaimana mungkin orang-orang yang tampak seperti berada di ambang kematian itu dapat menyembuhkan orang? Selanjutnya pasangan ini membangun rumah sakit bagi masyarakat suku asli dengan desain rumah sakit yang sangat berbeda jauh dengan konsep rumah sakit modern gaya Barat. Alih-alih membangun sebuah bangunan besar dengan lorong dan bangsal yang membingungkan dan tak berujung, yang dibangun Bang justru sebuah miniatur desa dengan sejumlah pondok. Nuansa tempat itu benar-benar dihapus dari kesan ruang klinik rumah sakit yang asing dan tidak bersahabat. Pasangan ini benar-benar memberikan pelayanan kesehatan yang sangat berbeda dan mengakar pada masyarakat, sesuai dengan nilai inti ajaran Mahatma Gandhi yaitu melayani masyarakat.

Dr. Bang mengungkapkan bahwa bagi dirinya yang merupakan orang berpendidikan, model rumah sakit yang dibangun adalah sangat aneh dan kuno, tetapi bagi masyarakat setempat justru dengan model seperti itulah mereka merasa bahwa rumah sakit yang dibangun Dr. Bang adalah milik mereka, sehingga mereka dapat merasakan kenyamanan saat mendapat pelayanan kesehatan, dan menurut Dr. Bang, persepsi masyarakatlah yang lebih penting, bukan persepsi dirinya atau para ahli, sehingga mereka terbuka dan mau menerima program pelayanan kesehatan yang diberikan.

Kini upaya yang telah dilakukan oleh Dr. Bang dan istrinya telah diakui oleh pemerintah India, dan mereka mendapat penghargaan “Global Heroes of Health” dari majalah TIME. WHO dan UNICEF  pun telah mengakui program neonatal care tersebut.  Beberapa negara seperti Bangladesh, Nepal dan Afrika telah melakukan studi banding ke Gadchiroli untuk melihat langsung program Dr. Bang ini.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari kiprah pasangan dokter ini, pertama, dalam memberikan pelayanan kesehatan, petugas harus mendahulukan kebutuhan masyarakat, bukan mendahulukan program dan aturan. Kedua, agar paham dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, seorang petugas kesehatan harus memiliki wawasan tentang adat budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.  Ketiga, aturan etika kesehatan yang ada seharusnya bukan menjadi hambatan dan kekakuan dalam bertindak, tetapi jika kita concern pada kebutuhan masyarakat harusnya justru dapat melahirkan kreativitas, seperti halnya yang dilakukan Dr. Bang, yang dapat mengawinkan program perawatan medis modern dengan tetap memperhatikan adat budaya setempat.

 

Bacaan lebih detail :

  • The Long Good Read, Posted on March 23, 2011 by admin, Dr. Abhay Bang: The Revolutionary Paediatrician. [http://thelonggoodread.com/2011/03/23/dr-abhay-bang-the-revolutionary-paediatrician/]
  • The Lancet, Volume 377, Issue 9761, Page 199, 15 January 2011: Rani and Abhay Bang—pioneers of health care in rural India [http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2811%2960034-2]

Seluruh sivitas akademika STIKes Dharma Husada Bandung tentunya sudah sangat familier dengan motto “Helping People with 3H Principles ” dan juga yel-yel yang berbunyi “Thinking big, working smart and serving lovely”. Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah kita melaksanakan motto dan yel-yel itu?  Jika belum, nampaknya apa yang dilakukan sepasang dokter dari India ini dapat kita […]

Leave a Reply

*